Friday, January 20, 2006

Pantaiku tak perawan lagi

Hembus angin meniup desir
Pucuk kelapa mengucap getir
Tentang butir bersaut kecil
Diculik dengan tubuh bugil

Ibu pasir memuntah isak
Angin pasang mengirim pesan
Suara pekik tangis menusuk malam
Menggaung hingga ujung pulau Bintan
Meronta-ronta
diatas perbatasan selat Malaka

Ditengah laut
Sebuah kapal tongkang memaksa ombak mengangkang
ditepis,hancur buih
Sesekali tangan - tangan kecil melambai
jauh ditengah
dalam geladak

Ibu pasir meremukan ucap
“Tolong,jangan kau culik anakku
Biarkan kami disini,bercinta dan mesra
Meski terkadang kami tak cukup mampu mengelak suara carut marut perut".

Namun kapal tongkang meludah "Cuihhhh"...
Seribu dayung angkuh ditepi lambung
Tak menoleh,mengangkat muka
Melaju menuju Singapura

matahari melompat dalam deras pagi
menangisi keterlambatannya,mengapa tak bersinar ketika malam tiba
matanya mengedip memantul awan, menjiplak serimbun spanduk jalan
"O,pantaiku tak perawan lagi, bumiku sengaja dibuat erosi"

0 Comments:

Post a Comment

<< Home